SANDIWARA DI LAPANGAN HIJAU

Share:

Pengurus berjanji akan membubarkan tim PSMS saat ini. Mereka menilai, loyalitas pemain terhadap klub sudah tidak ada lagi.

Seraut wajah Randiman Tarigan tampak bersedih. Ekspresi kekecewaannya begitu kental terlihat usai menyaksikan penampilan anak asuhnya bermain tanpa motivasi saat ditaklukan Persijap 0-1 Medio Juni lalu. Dari pinggir lapangan, Kepala Dinas Pertamanan Kota Medan itu tak lagi mampu membendung emosinya. “ Sudah lebih baik bubarkan saja para pemain PSMS sekarang,” ujarnya menahan emosi.

Sebenarnya Randiman tak layak berbicara seperti itu, mengingat ia merupakan wakil manajer PSMS. Tapi karena pertandingan itu sangat krusial karena menentukan nasib PSMS untuk melaju ke putaran delapan besar Liga Indonesia XII, satu-satunya jalan hanya harus meraih kemenangan. Tapi apa mau dikata, di depan pendukungnya sendiri di Stadion Teladan, tim berjulukan Ayam Kinantan itu malah berubah seperti “Ayam Sayur”

Agaknya kekecewaan Randiman dan segenap pengurus teras PSMS itu cuma sekadar menutupi rasa malu mereka dari kritikan masyarakat kota Medan. Pasalnya, kiprah PSMS di putaran kompetisi paling bergengsi di tanah air itu ditopang anggaran yang tak sedikit dari APBD Kota Medan yang nota bene uang rakyat. Para pemain pun akhirnya menjadi kambing hitam.

Pantaskah pemain dipersalahkan? Global sempat melakukan penelusuran untuk mengetahui sejauh mana sikap profesionalisme para pemain PSMS itu baik di dalam maupun di luar lapangan. “ Saya menyesal dilahirkan terlalu cepat,” kata Sugeng, mantan kiper PSMS era 1970-1980 an. Menurutnya, para pemain saat ini sudah kehilangan karakter permainan ala anak Medan. Padahal katanya, tidak ada lagi alasan pemain untuk tidak tampil total karena segala kebutuhan pemain sudah terpenuhi. Apalagi kalau dilihat gaji rata-rata pemain jauh lebih dari cukup. “ Gaji mereka itu lebih tinggi dari gaji gubernur,” ujarnya.

Samin Pardede wartawan senior kota Medan berpendapat serupa. Sepanjang pengalamannya meliput olahraga, ia menilai para pemain pada musim ini tidak memiliki loyalitas sebagai pemain profesional. Para pemain tampil hanya untuk menuntaskan kewajiban karena sudah dikontrak.

“Pemain sekarang ini adalah kumpulan para pemain sandiwara. Kartu merah atau sanksi tak bermain merupakan bagian dari skenario untuk memenangkan lawan ” ungkap Samin.

Pardede yang juga sebagai Humas PSMS ini menengarai, bukan tidak mustahil sejumlah pemain di tubuh PSMS terlibat dalam kasus suap.

Sikap tidak professional pemain dilapangan juga terekam dalam aktifitas mereka di luar lapangan. Penelusuran Global mendapatkan fakta sejumlah pemain PSMS kerap dipergoki keluyuran di malam hari. Mereka keluar secara diam-diam dari dari kompleks Stadion TD Pardede menjelang tengah malam. Tak perduli apakah usai pertandingan atau saat akan bertanding.

Tempat yang paling sering dikunjungi adalah Retro Spectiv yang berada di lantai VI gedung Capital Building Jalan Putri Hijau. Bersebelahan dengan Deli Plaza. Rata-rata jadwal kunjungan sejumlah pemain ini pada malam Sabtu atau Minggu malam. Tapi paling sering di malam Sabtu dimana saat itu wanita masuk gratis atau lebih dikenal Ladies Night.

Beberapa pemain lokal yang menjadikan Retro sebagai tempat kongkow-kongkow ini diantaran Restu Kartiko, Legimin Raharjo, Agus Cima dan lima pemain asing di PSMS, Alcidio Fleitas, Alehandro Tobar, Mbom Julian, Mario Alberto dan Greg Now Kolo.

Kalau para pemain asing lebih memilih duduk di depan mini bar, para pemain lokal cenderung masuk kandang — istilah untuk ruangan private.

Selain Retro, pusat jajanan Pagaruyung juga sering disinggahi para pemain. Kalau pagi hari, biasanya mereka memilih sarapan di depan SMA Negeri 1 Medan.

Sumber Global menyebutkan, penyebab utama para pemain sering keluyuran itu karena kurangnya penegakan disiplin manajemen khsususnya dari pelatih. Apalagi letak Stadion TD Pardede menyuburkan para pemain bertindak indisipliner karena yang jauh dari pengawasan manajamen.

Sikap tidak professional para pemain ini sebenarnya juga dirasakan pengurus. Itu sebabnya Randiman Tarigan merasa apatis dengan kondisi pemain yang ada saat ini. Puncaknya pada saat PSMS dikalahkan Persijap Juni lalu. Ketika itu ia melontarkan kalimat pedas. Lebih baik tim yang ada saat ini dibubarkan. Ia juga berharap PSMS gagal di Copa Indonesia. Sehingga tidak perlu mengeluarkan banyak uang. Ia melihat loyalitas para pemain kepada klub semakin berkurang. “ Menjelang Liga Indonesia mendatang baru kita bentuk lagi,” ujarnya.

Ketua Harian PSMS, Ramli MM juga sudah memberikan sinyal untuk mendukung pernyataan Randiman itu. Ia berjanji bantuan dari APBD Kota Medan tidak akan dihentikan. “ PSMS itu milik masyarakat dan kebanggaan Kota Medan. Jadi Pemko akan terus mensubsidinya,” tegas Ramli.

No comments